Pages

Labels

My Blog List

Followers

Sabtu, 21 April 2012

partner in crime, maybe



      Saya tidak tahu apa yang membuat saya berpikir untuk menulis ini. Tapi karena bayang-bayang dufan, buah tangan made in Medan dan bunga bangkai Bengkulu yang pernah dijanjikan oleh teman saya. Saya  harap setelah dia membaca tulisan yang tidak pernah saya sadari ini, semua janji2 palsunya itu bisa segera dilunasi ke saya.amin. 
    Haduuuh, seperti mau curhat gebetan aja. Saya lebih suka menyebutnya, Dia. Dia adalah teman paling absurd yang pernah saya kenal selama kuliah di UNY. Sampai sekarang saya tidak bisa menilai sifatnya seperti apa. Berteman dengannya itu seperti naik rollercoaster, seru pas mau naik dan bikin gedeg pas mau turun. Naik lagi, turun lagi, kadang belok dan terbalik. Saya tidak berani mengatakan bahwa kami bersahabat, Saya sadar saya bukan orang yang baik menjadi sahabatnya. Meski kami dekat dan sering jalan bareng. Saya tidak selalu ada 24 jam saat dia sedih, saat dia butuh, menemani dia, atau memberi advice2 super saat dia sedang galau. Benar juga kata teman saya dulu, saya orang yang tidak bisa menempatkan diri, mungkin ini salah satu maksudnya. Saya bukan orang yang sensitif akan keadaan orang lain. Tapi mungkin masuk akal ya kalau saya tidak mau dibilang suka mencampuri urusan orang lain.

    Saya percaya, sebenarnya hati kecil seseorang itu lebih tau apa yang terjadi pada hidupnya, pada apa yang membuat dia bahagia, pada apa yang bisa membuat dia move on atau terjatuh. 

Jadi saya selalu membebaskan siapapun untuk bercerita pada saya tanpa saya harus berkata panjang lebar, cukup mendengarkan atau tersenyum. Begitu juga ketika teman saya itu tiba-tiba menangis di dalam kamar saya. Saya bingung dan akhirnya membiarkan dia menangis dikasur sampai ngiler tanpa harus berkata, "Jangan menangis, kamu harus kuat."

Saya cuma bisa bilang, "Jangan ngiler dikasur saya, kamu harus cuci spreinya!"

Ini adalah hal bodoh yang mungkin tidak pantas dilakukan ketika teman kamu sedang bersedih.
   Tidak bisa dipungkiri, sejak dia satu kos sama saya, saya lebih mempunyai teman dekat. Dunia saya jadi lebih berwarna. Ditambah dengan kehadiran anak kos lainnya. Setiap orang pasti punya kelebihan dan kelemahannya masing2. Satu hal yang saya tau dari dulu, apapun  yang serba berlebihan itu tidak baik. Begitu juga dengan pertemanan. Saya akui saya sering bosan dengan teman saya itu, dan menjadi sangat malas meladeni kehadirannya. That’s all. Dan Dia?? Seakan-akan saya ini pacarnya aja,

 “Kamu kenapa sih do? Kamu marah ya sama aku?”
“Enggak!”
“Ah kamu bohong!”
“Enggak, aku cuma lagi sibuk mikirin skripsi.”
“Ah ya udah deh. Aku naik ya :( ”,
Ngloyor ke lantai 3 dan gak turun2 lagi.
Haduuuh. Saya  yakin dia itu sebenarnya cewek jadi2an yang bernafsu buat nembak saya jadi pacarnya.

Dia teman yang baik. Dia suka membagikan barang yang dia punya kepada teman2nya. Sampai virus herpes pun dia kasih ke saya. Saya yakin dia puas melihat herpes saya semakin senang tinggal di Surabaya.
Saya sendiri jarang memberikan apa2 ke dia, karena saya memang nggak punya apa2. Ketika dia berulang tahun saya cuma bisa kasih krupuk sisa makan malam saya. Ngasih bunga saat dia wisuda juga nggak kesampaian.

     Satu motto yang sampai saat ini saya pegang dari dia yaitu, Belilah barang yang mau kamu beli, meski kamu lagi bokek, urusan makan pasti ada jalannya. Yang intinya kalau kamu sedang sangat ingin membeli barang yang kamu inginkan, sedangkan uang bulananmu tidak mencukupi. Belilah, besok kita masih bisa makan dari mana saja. Lebih baik menyesal karena membeli. Yah semacam itulah ilmu geblek kami, akuntansi atau shopaholic ya???
     Tidak pernah menyangka, kalau waktu semakin terasa cepat belakangan ini, kalau waktu bisa membuat saya, dia dan mungkin teman2 kami yang lain merasa nggak rela untuk keluar dari safety zone kami. MAHASISWA. Beberapa bulan yang lalu, kami masih tidur bersama dikamar kos, nmenghabiskan sisa-sisa malam tahun baru berkeliling jogja berdua dan makan burger jam 4 pagi, jambak2an, jutek2an, memberi bunga ke Dosen, ngopi, belanja dan belanja lagi.

Ahh saya bahkan lupa hal apa saja yang pernah kami lakukan bersama....................

   Sekarang dia selalu jadi orang pertama yang saya hubungi kalau saya ada waktu luang dan kesepian di Surabaya. Dia adalah teman, yang tidak memberi harapan palsu apapun tentang hidup, karena hidupnya sendiri galau, sama seperti saya hahaa. Apapun keadaannya, saya akan bersikap sama padanya. Jutek dan acuh. Dia sekarang menjadi orang yang sangat sulit dihubungi, ahh biar saja. Biarkan dia mencari tujuan hidupnya. Dia tahu saya masih ditempat yang sama.

Tapi terimakasih kamu, sudah membuat saya menangis gara2 sms 'panjang-lebar'mu yang tiba2 harus pindah ke medan itu. Dan saya teringat lagi dengan kata2 yang pernah saya tulis dulu, teman kontrak. Apa benar ada ya? Kita berteman cuma 4 tahunan ini dan tidak tahu kapan bisa bertemu lagi. Sama seperti keberadaan teman2 saya yang lain, yang segera pergi dari jogja setelah mereka lulus. Walaupun sampai saat ini semuanya baik2 saja. Apa iya suatu saat kita bakal ketemu lagi???Well let it be surprise with our success stories.


 Dia pernah memberi saya kotak ini dan saya memilih untuk menyimpan semua mimpi dan cita-cita saya disini. Saya pajang setiap hari dimeja kantor. Kelak 1-2 tahun lagi saya akan membaca ulang apa yang pernah saya tuliskan. Dan mencoret apa yang sudah saya capai. Salah satu tulisan itu berisi, Dia.


Ahhh sudah jam 5 pagi, saya terbangun dari tidur.

0 comment:

Posting Komentar